Sedang dilanda rasa gundah gulana hari ini? Atau yang biasa orang orang milenials bilang jaman sekarang galau. Apakah anda sedang merasakannya saat ini? Jujur, perasaan itu cuma kalian yang tau dan rasakan. Tapi apakah ketika anda merasakan itu pernah terbesit sebuah kata kata dari hati, apa sih yang orang biasa lakuin kalo merasakan hal yang sama? atau pernah terbesit, apakah kita kurang bersyukur?
Karena pada dasarnya perasaan itu cuma kita yang tau, dan cuma kita yang bisa menyelesaikan sendiri. Ya betul, itu hanya konsep berfikir. Jikalau kita dilanda gundah gulana akibat suatu hal terus kita menganggap bahwa masalah ini membawa kita ke arah yang lebih baik maka tentu kita tidak akan terus merasakan gundah gulana berkelanjutan.
Tapi bagaimana dengan sebaliknya? Gundah gulana yang berkelanjutan bisa diselesaikan dengan cara singkat, mengambil pisau lalu menancapkan di dada, bisa juga mencari sebuah zat aktif yang membuat ketagihan, atau juga mencari zat aktif yang kemudian menyelesaikannya di satu hari yang sama.
Jadi, apa hubungan tulisan diatas dengan judul? Memang mungkin ada sedikit, tapi apakah kamu pernah berfikir jikalau dengan bersyukur akan menambah kebahagiaan. Mungkin motivator selalu bilang seperti itu, tapi memang betul. Karena tuhan/allah memiliki konsep bersyukur yang tidak bisa diartikan dengan logika seorang manusia manapun, tidak percaya? Mungkin tidak ada bukti tersurat yang bisa dikemukakan di tulisan ini, tapi jikalau kamu beragama baik beragama apapun yang di akui di dunia ini bahwa sebetulnya konsep bersyukur itu 1+1=3 bukan 1+1=2. Dan semakin besar.
Kenapa bisa begitu? Saya pun sebagai penulis tidak tau bagaimana men-analogikannya, tapi jelas jikalau kita sering bersyukur pasti akan dibalas dengan sesuatu, baik untuk diri sendiri, untuk orang tua ataupun orang sekitar kita, bahkan bisa saja sampai untuk anak cucu kita di masa depan.
Jangan lupa bersyukur, tapi kalo ga bersyukur juga gapapa. Sukurin!
Wednesday, April 12, 2017
Thursday, March 16, 2017
OM PMR, si Mengorkeskan Para Pemuda
Orkes yang punya slogan "Orkeslah Kalau Bergitar" nya ini kembali meramaikan ranah musik Indonesia. Yak betul orkes yang beranggotakan Jhonny Iskandar, Boedi Padukone, Yuri Mahippal, Imma Maranaan, Ajie Cetti Bahadur Syah, Harri "Muke Kapur" ini kembali mengudara berkat comeback nya di tahun 2013 di Borneo Beerhouse Jakarta. Dengan venue hardcore Borneo, Om Om PMR yang rata rata udah berumur ini berhasil membakar Borneo House menjadi panas dan juga mengatasi rasa kangen bertahun tahun.
Sejak itu, di tahun 2015 akhirnya OM PMR kembali mengeluarkan EP dengan tajuk "Orkeslah Kalau Bergitar" dengan 4 buah lagu yaitu Time Is Money, Topan "Tato Atau Panu", Mengadili Persepsi, dan Cinta Melulu.
EP Orkeslah Kalau Bergitar (2015)
Mungkin dari situlah anak anak muda jaman sekarang semakin mengenal OM PMR yang akhirnya pada show show mereka pada saat ini rata rata penontonnya adalah anak Muda. Tidak Percaya? Boleh dilihat disini:
OM PMR tampil di Kilas Balik GFJA
Dan juga bisa dilihat di Urban Gigs seri Bandung yang saya datangi beberapa waktu lalu di sini:
Om PMR Urban Gigs Bandung
See? Jaman sekarang ga orang tua aja yang suka OM PMR, anak muda juga. Jadi mari, ORKESLAH KALO BEGITAR!
Sunday, November 27, 2016
Itu sih selera.
Pernah menanyakan pertanyaan "Eh lo suka seringai?" dan dijawab "Oh yang musik nya grasak grusuk itu yang kalo nonton, penontonnya tubruk tubrukan itu kan? mending nonton Isyana ato Raisa." atau pernah di jawab dengan "Suka lagu apa? Gue milita sini, ntar kita moshing bareng sob. Punya korek?" atau pernah dijawab "Kurang suka seringai, lebih seneng burgerkill ato deadsquad." dan juga ada yang jawab "Suka dong, Burgerkill, Raisa, Isyana juga gue suka. Gue mah gapernah mengkotak kotakan musik". ADA!
Ya, itu namanya selera..
Sama hal nya kalo makan, ada yang suka nasi putih dan ada yang merah. Tapi intinya sama sama makan nasi, ada yang suka roti biasa ada yang suka roti gandum sama sama makan roti juga kan?
Tapi akan selalu ada yang memaksakan selera demi ego untuk terlihat keren, sejujurnya gue pun dulu pernah. Semenjak berada di fase 17-20 tahun dan dewasa ini, pemikiran akan selera semakin tajam dan juga semakin mengurangi ego untuk hanya terlihat keren, memulai dari hal selera musik yang dulu suka Hardcore sampai setiap minggu di studio elang (orang bandung pasti tau setelah paledang), di Cimahi kodim terus pusdikter (depan lapang rajawali dan depan pusdikhub) yang dipake untuk acara musik Hardcore, Punk, Metal, Death Metal, dan musik yang rata rata menggunakan kaos hitam hitam. Sampai acara musik yang tiap di cafe beraroma pop punk, pop tuit tuit ala synthesizer, sampai era sekarang hype yang dinamakan Electronic Dance Music yang FDC dari 30rb sampai habis jutaan rupiah dan pulang vomit karena terlalu sadar, dan juga musik remix dangdut PUBDUT yang isinya biduan biduan lokal pun pernah di sambangi.
Namanya juga segala ingin dicoba, tapi ya semakin kesini semakin mengerucut dan mulai menemukan kembali apa itu selera, dan nyaman untuk didengar. Itu cuma dari satu contoh selera.
Selera emang gabisa dipaksakan, tapi jangan pernah memaksakan selera sendiri untuk dipaksakan ke orang lain. Menawarkan boleh, memaksakan jangan, Kecuali orang tersebut punya selera yang mirip! hahahaha
regards,
Yulisar Hardiana
Ya, itu namanya selera..
Sama hal nya kalo makan, ada yang suka nasi putih dan ada yang merah. Tapi intinya sama sama makan nasi, ada yang suka roti biasa ada yang suka roti gandum sama sama makan roti juga kan?
Tapi akan selalu ada yang memaksakan selera demi ego untuk terlihat keren, sejujurnya gue pun dulu pernah. Semenjak berada di fase 17-20 tahun dan dewasa ini, pemikiran akan selera semakin tajam dan juga semakin mengurangi ego untuk hanya terlihat keren, memulai dari hal selera musik yang dulu suka Hardcore sampai setiap minggu di studio elang (orang bandung pasti tau setelah paledang), di Cimahi kodim terus pusdikter (depan lapang rajawali dan depan pusdikhub) yang dipake untuk acara musik Hardcore, Punk, Metal, Death Metal, dan musik yang rata rata menggunakan kaos hitam hitam. Sampai acara musik yang tiap di cafe beraroma pop punk, pop tuit tuit ala synthesizer, sampai era sekarang hype yang dinamakan Electronic Dance Music yang FDC dari 30rb sampai habis jutaan rupiah dan pulang vomit karena terlalu sadar, dan juga musik remix dangdut PUBDUT yang isinya biduan biduan lokal pun pernah di sambangi.
Namanya juga segala ingin dicoba, tapi ya semakin kesini semakin mengerucut dan mulai menemukan kembali apa itu selera, dan nyaman untuk didengar. Itu cuma dari satu contoh selera.
Selera emang gabisa dipaksakan, tapi jangan pernah memaksakan selera sendiri untuk dipaksakan ke orang lain. Menawarkan boleh, memaksakan jangan, Kecuali orang tersebut punya selera yang mirip! hahahaha
regards,
Yulisar Hardiana
Subscribe to:
Posts (Atom)




